(Export- Oil & Gas- Marine Industries)

Senin, 18 Juni 2012

Investasi sebagai modal


Pilih Investasi Emas?

Image via Wikipedia
Emas, memiliki stabilitas lebih baik ketimbang jenis investasi lainnya. Data Indonesia Commodity and Derivatives Exchange menunjukkan, volatilitas emas dalam satu tahun sebesar 18,7 persen. “Ini yang menyebabkan China switch (beralih) investasi ke emas,” kata Megian. Sementara itu, tingkat imbal hasil dari emas dalam dua tahun sebesar 27-30 persen.
Investasi emas menawarkan cara yang sangat baik bagi investor untuk menyimpan kekayaan saat ekonomi sulit. Logam emas jauh lebih stabil dibandingkan dengan investasi jenis lain.
Saat ini harga emas tengah melonjak menyusul kekhawatiran investor terhadap perekonomian Amerika Serikat. Permintaan emas terus meningkat karena investor lebih percaya diri memegang emas daripada uang tunai.Lihat saja, dalam satu tahun terakhir, harga emas melambung hingga 30 persen. Pada September 2009, harga emas masih di bawah US$1000 per ons (28,35 gram), saat ini telah mendekati US$1.300. Bahkan ini merupakan angka tertinggi sepanjang masa.
Connell Shaun, blogger yang juga investor keuangan menulis tujuh cara berinvestasi di logam mulia ini. Tulisan ini dipublikasikan DoughRoller.net,  situs perusahaan manajemen investasi dan keuangan di Amerika Serikat. Mengacu artikel tersebut, VIVANews memformulasikan kembali tips investasi emas disesuaikan dengan kondisi di Indonesia.

1. Emas batangan
Investor yang berinvestasi emas akan memilih emas batangan. Emas batangan dianggap sah bila kemurniannya mencapai 22-24 karat. Di Indonesia, emas batangan bisa dibeli di PT Aneka Tambang Tbk divisi Logam Mulia maupun di Perum Pegadaian. Anda bisa bertransaksi online melaluilogammulia.com atau menghubungi nomor telepon 021-299 80 900.
Emas batangan terdiri dari bermacam ukuran, mulai dari 25 gram, 50 gram, 100 gram, dan 1 kilogram. Emas dalam bentuk ini sangat cocok untuk sarana Investasi. Di mana pun kapan pun kita ingin menjualnya, nilainya tetap mengikuti standar international.
2. Emas simpanan
Anda mungkin tidak ingin menyimpan emas fisik di rumah karena risiko pencurian. Karena alasan ini, emas bisa disimpan di safety box di bank maupun yang lain. Atau bila Anda melihat bullionvault.com, perusahaan ini menyediakan transaksi emas sekaligus menyimpannya.

3. Reksa dana emas
Reksa dana emas merupakan cara lain untuk berinvestasi di logam mulia ini. Anda tak perlu benar-benar memegang fisik emas, tapi Anda bisa mengambil manfaatnya.
Reksa dana emas biasanya tidak hanya ditanamkan pada perdagangan emas fisik, tetapi juga melibatkan transaksi saham perusahaan-perusahaan tambang emas. Sebelum menentukan investasi di reksa dana ini, biaya pengelolaan, beban dana, dan nilai aktiva bersih harus dipertimbangkan.
Konsultasikan dulu dengan penasihat keuangan penyedia reksa dana. Reksa dana emas mungkin akan memberikan kestabilan dalam investasi Anda, tapi emas fisik jauh lebih stabil. Namun, di Indonesia, reksa dana emas tampaknya belum cukup populer.
4. Saham pertambangan emas
Investor yang ingin berinvestasi emas tanpa memiliki fisik logam juga dapat memilih jenis ini. Anda bisa membeli saham pada perusahaan pertambangan emas. Investor mengharapkan harga saham perusahaan pertambangan emas naik karena harga emas naik. Namun, dua peristiwa ini tidak selalu kongruen.
Investor dapat menentukan keberhasilan saham dengan memeriksa biaya biaya produksi emas versus harga emas. Jika harga emas adalah US$700 per ons dan biaya untuk memproduksi emas adalah US$300, maka profit margin tambang emas adalah US$400.
Jika harga emas meningkat 10 persen, akan ada peningkatan laba tambang emas itu sekitar 20 persen. Sebaliknya, penurunan harga juga akan menghasilkan penurunan 20 persen. Karena itu, beberapa perusahaan pertambangan emas melindungi investasi mereka dengan lindung nilai harga emas 18 bulan ke depan. Di Indonesia, salah satu emiten di tambang emas adalah PT Aneka Tambang Tbk.
5. ETF emas
Exchange Traded Fund (ETF) merupakan reksa dana yang diperdagangkan di bursa efek. Anda bisa melakukan transaksi ini dengan reksa dana yang berbasis emas. Sayangnya investasi ETF di Indonesia belum berjalan baik.
6. Emas berjangka
Emas berjangka merupakan cara lain berinvestasi emas tanpa memiliki fisik emas. Jual beli emas membutuhkan kontrak dengan jangka tertentu. Harganya juga dinyatakan dalam kontrak. Jika harga emas pada tanggal kontrak lebih tinggi dari harga emas saat kontrak dibuat, maka investor akan menghasilkan keuntungan. Namun, jika harga lebih rendah, investor akan rugi.
Berinvestasi dalam emas berjangka mungkin merupakan investasi yang berisiko, karena investor harus memprediksi gerak harga emas ke depan.
7. Perhiasan dan koin emas
Koin emas, terutama yang langka, sangat bernilai dalam investasi. Ini bukan hanya karena nilai emasnya tetapi juga karena nilai kelangkaan. Sedangkan perhiasan emas adalah cara umum investasi di logam ini. Perhiasan emas bisa Anda pilih sekaligus sebagai investasi dan gaya hidup.
Sayangnya keuntungan investasi ini sangat sedikit. Sebab ketika Anda membeli perhiasan, uang yang Anda bayarkan terdiri untuk harga emasnya, ongkos pembuatan, desain, dan merk. Sedangkan bila dijual, Anda hanya mendapatkan nilai emasnya saja. (hs)

Percaya awal segalanya

Inilah modal utama yang membuat hidup anda sukses atau tidak. awal keyakinan berasal dari mimpi memang mimpi itu pasti tinggi namun mimpi yang diyakini pasti akan berujung pada hasil tapi hasil tersebut sudah pasti diimbangi dengan usaha.


Sedikit contoh dari kakak kelas saya yang tekun dan  ulet mereka pantang menyerah menghadapi mimpi mereka mereka "yakin" dan keyakinan tersebut berujung pada kata "bisa" dan kata bisa itulah kata kunci pertama untuk meraih kesuksesan.


banyak orang terkesan dengan kekayaan namun apakah kekayaan membawa kebahagiaan?
belum tentu karna orang orang tersebut hanya menikmati dan belum tentu "percaya", percaya pada takdir tuhan yang telah memberikan rezeki yang baik pada umatnya.



Etos Kerja

Etos Kerja : Definisi, Fungsi Dan Cara Menumbuhkan Etos Kerja
Menurut Gregory (2003) sejarah membuktikan negara yang dewasa ini menjadi negara maju, dan terus berpacu dengan teknologi/informasi tinggi pada dasarnya dimulai dengan suatu etos kerja yang sangat kuat untuk berhasil. Maka tidak dapat diabaikan etos kerja merupakan bagian yang patut menjadi perhatian dalam keberhasilan suatu perusahaan, perusahaan besar dan terkenal telah membuktikan bahwa etos kerja yang militan menjadi salah satu dampak keberhasilan perusahaannya.
Etos kerja seseorang erat kaitannya dengan kepribadian, perilaku, dan karakternya. Setiap orang memiliki internal being yang merumuskan siapa dia. Selanjutnya internal being menetapkan respon, atau reaksi terhadap tuntutan external. Respon internal being terhadap tuntutan external dunia kerja menetapkan etos kerja seseorang (Siregar, 2000 : 25)
Etos berasal dari bahasa yunani ethos yakni karakter, cara hidup, kebiasaan seseorang,motivasi atau tujuan moral seseorang serta pandangan dunia mereka, yakni gambaran, cara bertindak ataupun gagasan yang paling komprehensif mengenai tatanan. Dengan kata lain etos adalah aspek evaluatif sebagai sikap mendasar terhadap diri dan dunia mereka yang direfleksikan dalam kehidupannya (Khasanah, 2004:8).
Menurut Geertz (1982:3) Etos adalah sikap yang mendasar terhadap diri dan dunia yang dipancarkan hidup. Sikap disini digambarkan sebagai prinsip masing-masing individu yang sudah menjadi keyakinannya dalam mengambil keputusan .
Menurut kamus Webster, etos didefinisikan sebagai keyakinan yang berfungsi sebagai panduan tingkah laku bagi seseorang, sekelompok, atau sebuah institusi (guiding beliefs of a person, group or institution).
Menurut Usman Pelly (1992:12), etos kerja adalah sikap yang muncul atas kehendak dan kesadaran sendiri yang didasari oleh sistem orientasi nilai budaya terhadap kerja. Dapat dilihat dari pernyataan di muka bahwa etos kerja mempunyai dasar dari nilai budaya, yang mana dari nilai budaya itulah yang membentuk etos kerja masing-masing pribadi.
Etos kerja dapat diartikan sebagai konsep tentang kerja atau paradigma kerja yang diyakini oleh seseorang atau sekelompok orang sebagai baik dan benar yang diwujudnyatakan melalui perilaku kerja mereka secara khas (Sinamo, 2003,2).
Menurut Toto Tasmara, (2002) Etos kerja adalah totalitas kepribadian dirinya serta caranya mengekspresikan, memandang, meyakini dan memberikan makna ada sesuatu, yang mendorong dirinya untuk bertindak dan meraih amal yang optimal sehingga pola hubungan antara manusia dengan dirinya dan antara manusia dengan makhluk lainnya dapat terjalin dengan baik. Etos kerja berhubungan dengan beberapa hal penting seperti:
a. Orientasi ke masa depan, yaitu segala sesuatu direncanakan dengan baik, baik waktu, kondisi untuk ke depan agar lebih baik dari kemarin.
b. Menghargai waktu dengan adanya disiplin waktu merupakan hal yang sangat penting guna efesien dan efektivitas bekerja.
c. Tanggung jawab, yaitu memberikan asumsi bahwa pekerjaan yang dilakukan merupakan sesuatu yang harus dikerjakan dengan ketekunan dan kesungguhan.
d. Hemat dan sederhana, yaitu sesuatu yang berbeda dengan hidup boros, sehingga bagaimana pengeluaran itu bermanfaat untuk kedepan.
e. Persaingan sehat, yaitu dengan memacu diri agar pekerjaan yang dilakukan tidak mudah patah semangat dan menambah kreativitas diri.
Secara umum, etos kerja berfungsi sebagai alat penggerak tetap perbuatan dan kegiatan individu sebagai seorang pengusaha atau manajer. Menurut A. Tabrani Rusyan, (1989) fungsi etos kerja adalah:
(a) pendorang timbulnya perbuatan
(b) penggairah dalam aktivitas
(c) penggerak, seperti; mesin bagi mobil, maka besar kecilnya motivasi yang akan menentukan cepat lambatnya suatu perbuatan.
Cara Menumbuhkan Etos Kerja :

1. Menumbuhkan sikap optimis :
Mengembangkan semangat dalam diri
Peliharalah sikap optimis yang telah dipunyai
Motivasi diri untuk bekerja lebih maju
2. Jadilah diri anda sendiri :
Lepaskan impian
Raihlah cita-cita yang anda harapkan
3. Keberanian untuk memulai :
Jangan buang waktu dengan bermimpi
Jangan takut untuk gagal
Merubah kegagalan menjadi sukses
4. Kerja dan waktu :
Menghargai waktu (tidak akan pernah ada ulangan waktu)
Jangan cepat merasa puas
5. Kosentrasikan diri pada pekerjaan :
Latihan berkonsentrasi
Perlunya beristirahat
6. Bekerja adalah sebuah panggilan Tuhan(Khasanah, 2004)
Aspek Kecerdasan yang Perlu Dibina dalam Diri, untuk Meningkatkan Etos Kerja :
Kesadaran : keadaan mengerti akan pekerjaanya.
Semangat : keinginan untuk bekerja.
Kemauan : apa yang diinginkan atau keinginan, kehendak dalam bekerja.
Komitmen : perjanjian untuk melaksanakan pekerjaan (janji dalam bekerja).
Inisiatif : usaha mula-mula, prakarsa dalam bekerja.
Produktif : banyak menghasilkan sesuatu bagi perusahaan.
Peningkatan : proses, cara atau perbuatan meningkatkan usaha, kegiatan dan sebagainya dalam bekerja.
Wawasan : konsepsi atau cara pandang tentang bekerja.(Siregar, 2000, p.24)
Sumber : http://jurnal-sdm.blogspot.com/


Minggu, 17 Juni 2012

"BURN OUT" dalam organisasi


Fenomena “Burnout” Dalam Organisasi
Akhir-akhir ini, perhatian makin diberikan kepada suatu fenomena yang disebut burnout yang artinya “terbakar habis”. Kondisi ini menimpa sejumlah karyawan manajemen dan pengawasan, khususnya orang-orang yang berprestasi dan para pelaku mandiri. Alasannya karena orang ini mengetahui bagaimana cara menyembunyikan kelemahan mereka dengan baik, burnout tidak kelihatan pada masa awal. Namun hal ini terlihat jelas bagi orang disekitarnya begitu keadaan muncul.
http://elqorni.files.wordpress.com/2010/09/screenshot-432.jpg?w=300&h=244Namun belum ada definisi umum yang diterima, burnout dapat digambarkan sebagai berkurangnya vitalitas, energi, sumber dari dalam serta kemampuan untuk berfungsi dari seseorang secara terus menerus.
Fenomena ‘ burnout’ telah telah dianalisa sejak awal tahun  1970-an ( Pastore & Judd, 1992 ). Namun sampai sekarangagak sulit menemukan  definisi operational yang konkrit tentang ‘ burnout’. Freudenberger (1980: 74 ) mendefinisikan  ‘burnout’ sebagai : ” …a state of fatigue or frustration brought about by devotion to a cause, way of life, or relationship that failed to produce the expected reward.”  Sering kali banyak kekeliruan di kalangan penulis untuk menggunakan  konsep yang sama antara  ‘burnout’ dan tekanan (stress). dua istilah  ini telah digunakan secara silih berganti dalam berbagai penulisan walaupun pada hakikatnya ada perbedaan  di antara kedua-dua konsep tersebut, karena sangat sulit membedakan karena keduanya. Selain ada  persamaan ciri-ciri dan simptoms-simptomps pada individu yang mengalami masalah-masalah tersebut.
Menurut Lazarus (1966) dan Selye (1976), ” burnout is usually a result of unmediated stress, and in several theories certain stress reactions are referred to in terms that are similar to those used to describe burnout. “( Friedman, 1995). Farber (1983:3) pula menyimpulkan bahawa ” in general burnout can be conceptualized as a function of the stresses engendered by individual, work-related and societal factors “
Maslach dan Pines telah mengkaji tentang ‘burnout’ dari perpektif sosial-psikologikal. Kajian mereka telah berhasil menciptakan teori yang  dikenal sebagai Maslach Burnout Inventori. Inventori ini telah digunakan secara meluas untuk menentukan tiga faktor dalam mengukur ‘burnout’ terhadap individu. Faktor-faktor tersebut adalah dari segi keletihan emosi ( emotion exhaustion), gangguan keperibadian sendiri  (depersonalization ), dan pencapaian pribadi ( personal accomplishment ). Di samping itu, Maslach dan Pines percaya bahwa kriteria  kerja/job description/tugas dalam sebuah organisasi adalah faktor penyebab utama  lahirnya  ‘ burnout’ ( Gold & Roth, 1993 ).
Maslach dan Pines(1981) ada tiga komponen kriteria seseorang mengalami  ‘burnout’ yaitu , keletihan ( exhaustion ) fizikal, emosi dan mental. Sehubungan itu, daripada kajian Pines dan Aronson (1981), ‘ burnout’ dicirikan sebagai suatu keadaan yang dialami oleh mental-emosi dan Fisik  individu seperti kelesuan, kemurungan, optimistik, perasaan terperangkap, perasaan tidak berguna, dan perasaan energetik ( Fejgin et.al,1995 ).
Korban burnout merasa terjepit, kehabisan tenaga dan kosong. Dia merasa kecewa, sinis, mudah tersinggung dan tegang. Kepada orang lain dia terlihat marah atau depresi dan menarik diri. Setiap masalah kecil dapat menyulut rekasi kemarahan atau kehinaan. Saran-saran baik atau penawaran bantuan semuanya tidak didengar.
Korban burnout merasa bahwa kehidupan dan pekerjaannya telah kehilangan arti. Apa yang dahulunya menggairahkan dan menantang sekarang menjadi membosankan. Hari kerja seakan urusan yang menyakitkan dan membuatnya frustasi. Terlalu banyak pekerjaan yang harus dilakukan, terlalu banyak gangguan yang tidak perlu yang harus ditahan, terlalu banyak masalah sepele yang harus diperhatikan dan tidak ada penghargaan yang dapat dibanggakan pada akhir hari kerja. Banyak orang yang menjadi korban burnout menjadi pengawas jam yang kronis, “santai”, Menghindari tanggungjawab atau orang yang sering mangkir atau mereka pergi kerja dengan cara seperti robot.
___________________________
Ujian kuosien “Burnout” Anda
(terlalu banyak jawaban “YA” merupakan tanda peringatan ) YA/TIDAK
1. ________ Apakah anda selalu merasa tertekan untuk mencapai keberhasilan ?
2. ________ Apakah anda cepat lelah ? merasa letih dan tidak energik?
3. ________ Apakah anda perlu selalu mencari hiburan untuk menghindari perasaan bosan?
4. ________ Apakah orangorang mengjengkelkan anda dengan berkata : “Anda tidak kelihatan begitu
sehat akhir-akhir ini”?
5. ________ Apakah anda bekerja makin keras tetapi menghasilkan makin sedikit?
6. ________ Apakah satu bidang kehidupan anda secara tidak seimbang menjadi penting bagi anda?
7.________ Apakah anda semakin sinis dan kecewa?
8.________ Apakah anda tidak dapat bersantai?
9.________ Apakah anda tidak luwes ketika memutuskan sesuatu?
10. ________ Apakah anda sering terserang oleh kesedihan yang tidak dapat anda jelaskan?
11.________ Apakah anda melupakan perjanjian, batas akhir atau milik-milik pribadi?
12.________ Apakah anda makin mudah tersinggung?makin mudah marah? makin kecewa
dengan orang-orang       disekitar anda?
13. ________ Apakah anda begitu menyatu dengan kegaitan-kegiatan anda, sehingga bila mereka gagal,
anda juga  merasa gagal?
14. ________ Apakah anda selalu khawatir dalam menjaga citra anda?
15. ________ Apakah anda terlalu sibuk untuk melakukan sesuatu bahkan hal-hal rutin seperti menelpon
seseorang dan membaca laporan?
16. ________ Apakah anda tidak mampu tertawa dengan lelucon-lelucon tentang diri anda sendiri?
17. ________ Apakah anda tidak dapat berbicara dengan orang lain ?
18. ________ Apakah anda merasa terputus ketika kegiatan dalam hari kerja habis?
19. ________ Apakah sasaran anda tidak jelas, berubah-rubah antara jangka panjang dan jangka pendek?
20. ________ Apakah kesenangan anda sukar dipahami? ————————————————————————————————————————————-
Apa penyebab burnout?
Para pakar belum mencapai kesepakatan tentang apa yang persis menyebabkan burnout. Beberapa orang menghubungkannya dengan ” kelahiran masyarakat yang gila serta waktu kapan kita hidup”, yang ditandai dengan tekanan yang berlebihan, perubahan mobilitas, birokrasi serta mekanisasi. Yang lainya merasa bahwa faktor situasi dan disposisi yang harus dipersalahkan. Tanda umum dari sebagian korban burnout tanpaknya berbentuk suatu pola usaha keras untuk mencapai harapan atau sasaran yang tidak realistis ditambah dengan tidak menyadari kemampuan mereka sendiri atau situasi.Mereka nampaknya tidak menyadari bahwa ketika puncak ambisi mereka terlalu tinggi, kekecewaan dan frustasi selalu selalu akan menunggu diakhirnya. Korban burnout selalu mulai dengan harapan-harapan yang tinggi, mendorong diri mereka sendiri terlalu keras… berupaya keras terlalu lama.
Akhirnya ketidaksesuaian antara upaya dan hasil terlihat jelas, mereka menjadi kecewa.Mereka kehilangan penyulut utama yang digambarkan Joseph C. Yeager (2000:205) adanya kemunduran “tiga E” yaitu enthuasm (antusiasme), excitement (kegairahan), dan energy (energi) menjadi “tiga D”,drudgery (kebosanan), dullness (tidak ada variasi) dan demotivation (hilangnya motivasi)Penanggulangan
Apa yang harus dilakukan dengan korban burnout ?untungnya, terdapat banyak orang yang akan terhentak dari apatis dan stagnasi menjadi antusisme dan energi tanpa intervensi dan bantuan dari luar. Yang lain-lainnya dapat diselamatkan dengan intervensi terapi. Tetapi ada juga dari korban burnoutyang keadaanya tanpak kronis dan yang tidak dapat dibantu dengan mudah. Beberapa juru bicara di industri menunjukan bahwa bila dihadapkan dengan keadaan ekonom yang sulit, bisnis dan industri lebih baik menerapkan prosedur triage yang digunakan oleh unit-unit medis lapangan selama waktu perang. Dalam triage, para korban diamsukan kedalam satu dari tiga kelompok :
kelompok pertama terdiri dari orang-orang yang kemungkinan hidupnya ha[pir tidak ada, apakah ada bantuan atau tidak.
kelompok kedua bukan hanya dapat hidup tetapi juga akan sembuh, apakah ada bantuan atau tidak.
yang dimasukan kedalam kelompok ketiga adalah orang-orang yang dapat diselamatkan, asalkan mereka mendapatkan perhatian segera. Biasanya mereka dirawat terlebih dahulu.
Meskipun mungkin tanpak tidak berperasaan dan tidak manusiawi, konsep triage barangkali harus diterapkan didalam organisasi bisnis. Psikolog Herbert J. Freudenberger menciptakan sebuah kuis yang akan memungkinkan anda atau bawahan anda dapat menentukan apakah ada pola sikap dan prilaku yag akan menuju burnout. Banyaknya jawaban “YA” terhadap pertanyaan dalam kuis diatas dapat menjadi tanda peringatan bahwa sasaran seseorang harus dipertimbangkan kembali dan pola-pola prilaku dibentuk kembali.
Referensi dan sumber
Timpe, A. Dale, The Art and science of business management perfomance, terj. sofyan cikmat, Facts on file, Inc., New york, 2000.
Austin, D.A. (1981). ‘Teachers Burnout Issue’ . Journal of Physical Education Recreation and Dance, 52(9), 35-36.
Campbell,J.P., Dunnette,M.D., Lawler,E.E., & Weick, K.E. ( 1970 ). Managerial Behavior, Performance, and Effectiveness. New York : McGraw-Hill.
Depaepe, J., French, R., & Laray, B. (1985). Burnout Symptoms experienced among special physical educators : A descriptive longitudinal study. Adapted Physical Activity Quarterly, 2, 189-196.
Farber, B.A. (1983). Stress and Burnout in the Human Services Profession. New York : Pergamon Press.
Fejgin, N, Ephraty,N, k Ben-sira, D. (1995). Work Environment and Burnout of Physical Education Teachers. Journal of Teaching Physial Education . 15. 64-78.
Freedman, 1. (1991). ‘High and Low Burnout Schools: School Culture Aspects of Teacher Burnout’. The Journal of Educational Research, 84, 325-333.
Freudenberger, H. (1980). Staff burnout . Journal of Social Issues, 34 (4), 111 – 123
Freudenberger, H.J., & Richelson, G. (1980), Burnout the High cost & High achievement. New York : Anchor Press.
Friedman, I.A. ( May – June, 1995 ). Student Behaviour Patterns Contributing to Teacher Burnout. The Journal of Educational Research. 88(5), 281-288.
Gay, L.R. ( 1996 ). Educational Research : Competencies for Analysis and Application ( 5th.ed ). New Jersey : Prentice Hall, Inc.
Girdano, A.A, Everly, G.S, & Dusek, D.E, (1993) Controlling Stress & Tension – A Holistic Approah. New Jersey : Englewood Cliffs
Gold, Y., & Roth, R.A. ( 1993 ). Teachers Managing Stress and Preventing Burnout : The Professional Health Solution. Washington, D.C : The Falmer Press.
Horton , L. (1984). ‘What do we know about teachers burnout? Journal of Physical Education, Recreation and Dance. 55 ( 3 ), 69 –71.
Isaac, S., & Micheal, W.B. (1984). Handbook In Research and Evaluation ( 4th.ed ). San Diego, Califonia : EdiTs Publishers.
Johnson, B.C., & Nelson, J.K. (1986). Practical Measurement For Evaluation in Physical Education ( 4th.ed ). USA: Burgess Publishing.
Mancini,V.A.,Wuest,D.A.,Valentine,K.W., & Clark,E.K. ( 1984 ). The use of instruction and supervision in interaction analysis on burned out teachers : Its effects on teaching behaviors, levels of burnout and academic learning time. Journal of Teaching in Physical Education. 3 ( 2 ), 29 – 46.
Maslach, C., & Jackson, S. (1986). Maslach Burnout Inventory Manual. Palo Alto, CA : Consulting Psychological Press, Inc.
Pastore, D.C., & Judd, M.R. ( May-June,1992 ). Burnout in Coaches of Women’s Team Sports. JOPERD. 74 – 79.
Pines, A. (1982). Changing organizations : Is work environment without burnout an impossible goal ? In W. Paine (ed), Job stress and burnout (PP . 274 – 281). Beverly Hills, CA : Sage.
Pines, A., & Aronson, E. ( 1981 ). Burnout : From tedium to personal growth. New York : Free Press Schwab, R.L Ivanicki , E.F (1982). Perceived role conflict, role ambiguity and teacher burnout. Educational Administrative Quarterly 18, 60 – 74.
Sisley, B.L., Capel, S.A, & Desertrain G.S. (1987). ‘Preventing & Burnout in teacher coaches. Journal of Physical Education, Recreation and Dance, 58 (2), 71 – 75.
Smith, J.C. ( !993 ). Understading Stress and Coping, New York: MacMillan Publishing Company.
Yukl, G.A., & Wexley, K.N.C. (1984 ). Organization Behavior and Personnel Psychology. Illinois: IRWIN.

Minggu, 10 Juni 2012

Bangun Kesuksesan diri dari sekarang




Sukses?? Sukses sejatinya berasal dari keyakinan dan kepercayaan diri. Kepercayaan diri..?? banyak orang yang meremehkan kekuatan tersebut. Terkadang kepercayaan diri yang berlebih dapat menimbulkan rasa sombong dan angkuh. Sebenarnya sukses itu adalah buah pikiran, mereka sukses apabila mainset mereka terisi dengan kata kata "sukses" sebenarnya apabila manusia dapat bersyukur mungkin mereka akan merasakan kesuksesan terbesar dalam hidup mereka, karna setiap perjalan hidup adalah pencapaian dan setiap pencapaian itulah kesuksesan. Bangun rasa percaya anda dari sekarang, namun jangan lah berlebihan, over Pd atau ambisius karna dunia ini fana tak abadi, dan sifat hakiki manusia itu tak pernah puas. itulah mengapa tuhan menciptakan manusia menggunakan tanah ini disebabkan untuk menyadarkan diri masing masing "HIDUP ITU SEBENTAR". Janganlah berlebih dalam hidup karna tuhan tak suka yang berlebih, hiduplah dengan tujuan yang baik karna hidup dengan tujuan akan memudahkan menggapai kesuksesan. Percayalah namun sertakan rasa agama anda dalam sistem kepercayaan anda. Gunakan sistem nurani anda dalam bertindak ingatlah cita cita dan alasan anda untuk menggapai kesuksesan. sedikit bumbu untuk dioleskan kepada resep kesuksesan anda.

1. Ikut sertakan tuhan dimanapun anda berada.
2. Jangan pernah menyepelekan  hal yg kecil
3. Ikuti hati nurani anda dalam memilih setiap keputusan
4. JANGAN SEPELEKAN WAKTU
5. Berbanggalah dengan apa yang ada pada diri anda
6. rubahlah kelemahan menjadi kemampuan
7. Rubahlah pikiran dan rasa takut sekarang, ingatlah bahwasanya kita ini manusia, dan manusia itu tak luput dari kesalahan, jika anda berbuat salah janganlah sungkan untuk megakui dan cepatlah untuk merubah kesalahan tersebut.
8. DO'A ORANG TUA jangan sepelekan yang satu ini karna merekalah kita dapat menginjakan kaki dibumi dan karna mereka pula kita bisa merasakan nikmatnya kasih sayang dan indahnya hidup, dan keridoaan tuhan merupakan keridoan orangtua.
9.  Beribadahlah dengan iklas
10. Niat yang tulus
11. Maksimalkan usaha anda
12.Jaga kesehatan anda
.

Jumat, 08 Juni 2012

event trading

\

June , 2012
Eurosatory -- Defense Industry Eq.
Location/Date:
Paris, France6/11/2012 - 6/15/2012
Contacts:
Mary-Lynn Landgraf, OTEXA (Events)
International Trade Specialist
Phone: 202-482-7909
Mary-Lynn_Landgraf@ita.doc.gov

July , 2012
Aqua Pets Taipei 2012 -- Veterinary Medicine Eq./Supplies
Location/Date:
Taipei, Taiwan7/15/2012 - 7/18/2012
Contacts:
Rita Chen, Taipei
Commercial Specialist
Phone: 886-2-27201550 x 329
Rita.Chen@trade.gov

August , 2012
Interbuild Africa 2012 -- multiple industry sectors
Pre-Register for this event
Location/Date:
Johannesburg, South Africa8/15/2012 - 8/18/2012
Contacts:
Jaisvir Sewpaul, Cape Town
Commercial Specialist
Phone: 27 21 702 7300, extension 7379
Jaisvir.Sewpaul@trade.gov
Rachel Kreissl, Clearwater
Commercial Officer
Phone: 727-464-4166
Rachel.Kreissl@trade.gov
Sally Pacheco, Kansas City
International Trade Specialist
Phone: 816-421-1876
Sally.Pacheco@trade.gov

September , 2012
FOR ARCH -- multiple industry sectors
Pre-Register for this event
Location/Date:
Prague, Czech Republic9/18/2012 - 9/22/2012
Contacts:
Hana Obrusnikova, Prague
Senior Commercial Specialist
Phone: (+420) 257 022 436
Hana.Obrusnikova@trade.gov
Janis Kalnins, Las Vegas
Senior International Trade Specialist
Phone: 702-219-7461
Janis.Kalnins@trade.gov

September , 2012
Africa Aerospace and Defence -- multiple industry sectors
Location/Date:
Cape Town, South Africa9/19/2012 - 9/23/2012
Contacts:
Johan Van Rensburg, Johannesburg
Senior Commercial Specialist
Phone: 27 11 290-3208
Johan.vanRensburg@trade.gov
Mary-Lynn Landgraf, OTEXA (Events)
International Trade Specialist
Phone: 202-482-7909
Mary-Lynn_Landgraf@ita.doc.gov

October , 2012
AGROSALON -- multiple industry sectors
Pre-Register for this event
Location/Date:
Moscow, Russia10/10/2012 - 10/13/2012
Contacts:
Andrea Berton, Minneapolis
International Trade Specialist
Phone: 612-348-1639
Andrea.Berton@trade.gov
Ken Walsh, Moscow
Commercial Officer
Phone: +7-495-728-5369
Ken.Walsh@trade.gov
Oksana Prokofieva, Moscow
Commercial Specialist
Phone: +7-495-728-5529
Oksana.Prokofieva@trade.gov

http://export.gov/eac/trade_events.asp

An Introduction to U.S


Unfair foreign pricing and government subsidies distort the free flow of goods and adversely affect American business in the global marketplace. Import Administration, within the International Trade Administration of the Department of Commerce, enforces laws and agreements to protect U.S. businesses from unfair competition within the U.S. resulting from unfair pricing by foreign companies and unfair subsidies to foreign companies by their governments. 
What is Dumping?

Dumping occurs when a foreign producer sells a product in the United States at a price that is below that producer's sales price in the country of origin ("home market"), or at a price that is lower than the cost of production. The difference between the price (or cost) in the foreign market and the price in the U.S. market is called the dumping margin. Unless the conduct falls within the legal definition of dumping as specified in U.S. law, a foreign producer selling imports at prices below those of American products is not necessarily dumping. 
What is a Countervailable Subsidy?

Foreign governments subsidize industries when they provide financial assistance to benefit the production, manufacture or exportation of goods. Subsidies can take many forms, such as direct cash payments, credits against taxes, and loans at terms that do not reflect market conditions. The statute and regulations establish standards for determining when an unfair subsidy has been conferred. The amount of subsidies the foreign producer receives from the government is the basis for the subsidy rate by which the subsidy is offset, or "countervailed," through higher import duties.
How is Dumping or Subsidization Remedied?

If a U.S. industry believes that it is being injured by unfair competition through dumping or subsidization of a foreign product, it may request the imposition of antidumping or countervailing duties by filing a petition with both Import Administration and the United States International Trade Commission. Import Administration investigates foreign producers and governments to determine whether dumping or subsidization has occurred and calculates the amount of dumping or subsidies. 
What is the role of the International Trade Commission

The International Trade Commission determines whether the domestic industry is suffering material injury as a result of the imports of the dumped or subsidized products. The International Trade Commission considers all relevant economic factors, including the domestic industry's output, sales, market share, employment, and profits. For further information on the International Trade Commission's injury investigation, see http://www.usitc.gov. Both the International Trade Commission and Import Administration must make affirmative preliminary determinations for an investigation to go forward. 
What relief is the end result of an Antidumping or Countervailing Duty Investigation?

If both Commerce and the International Trade Commission make affirmative findings of dumping and injury, Commerce instructs U.S. Customs and Border Protection to assess duties against imports of that product into the United States. The duties are assessed as a percentage of the value of the imports and are equivalent to the dumping and subsidy margins, described above. For example, if Commerce finds a dumping margin of 35%, U.S. Customs and Border Protection will collect a 35% duty on the entered value of the product at the time of importation into the United States in order to offset the amount of dumping. Information on the U.S. Customs Service may be found at http://www.cbp.gov
How long does it take for Antidumping or Countervailing Duty Orders to be issued?

If both the International Trade Commission and Import Administration make affirmative preliminary determinations (within 190 days of initiation of the antidumping investigation, or 130 days for countervailing duty investigation) importers are required to post a bond or cash to cover an estimated amount for the duties which would be collected in the event that an AD or CVD order is issued upon the completion of the investigations. Typically, the final phases of the investigations by Import Administration and the International Trade Commission are completed within 12 to 18 months of initiation. 
What are the requirements for filing an Antidumping or Countervailing Duty Petition?

Petitions may be filed by a domestic interested party, including a manufacturer or a union within the domestic industry producing the product which competes with the imports to be investigated. To ensure that there is sufficient support by domestic industry for the investigation, the law requires that the petitioners must represent at least 25% of domestic production. The statute requires the petition to contain certain information, including data about conditions of the U.S. market and the domestic industry, as well as evidence of dumping or unfair subsidization. 
Antidumping and countervailing duty trade remedies have been successfully pursued by a variety of domestic industries, including producers of steel, industrial equipment, computer chips, agricultural products, textiles, chemicals, and consumer products. Both the Import Administration and the International Trade Commission have staff available to assist domestic industries in deciding whether there is sufficient evidence to file a petition for antidumping or countervailing duty investigations. The staff may also assist eligible small businesses with the filing process. 
How can I learn more about filing a petition?

Contact the Import Administration, Petition Counseling and Analysis Unit at (202) 482-1255 or by e-mail atPetition_Counseling@ita.doc.gov 
Note: This document is for general information purposes only. When interpreting and applying the law, readers should refer to the Tariff Act of 1930, as amended, (19 U.S.C. 1671-1671h, 1673-1673h) and the related regulations in Title 19 of the Code of Federal Regulations.

Selasa, 29 Mei 2012

Financial Management

Definisi Biaya
Definisi Biaya
Konsep biaya merupakan konsep yang terpenting dalam akuntansi manajemen dan akuntansi biaya. Adapun tujuan memperoleh informasi biayadigunakan untuk proses perencanaan, pengendalian dan pembuatan keputusan. Menurut Hansen dan Mowen (2004:40), biaya didefinisikan sebagai “kas atau nilaie kuivalen kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan memberikan manfaat saat ini atau di masa yang akan datang bagiorganisasi. Sedangkan menurutSupriyono (2000:185), biaya adalah pengorbanan ekonomis yang dibuat untuk memperoleh barang atau jasa.
Pengertian biaya menurut Harnanto dan Zulkifli (2003:14) adalah sesuatu yang berkonotasi sebagai pengurang yang harus dikorbankan untuk memperoleh tujuan akhir yaitu mendatangkan laba. Jadi menurut beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa biaya merupakan kas atau nilai ekuivalen kas yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan guna untuk memberikan suatu manfaat yaitu peningkatan laba di masa mendatang.
Klasifikasi Biaya
Penggolongan biaya diperlukan untuk mengembangkan data biaya yang dapat membantu manajemen dalam pencapaian tujuan perusahaan. Menurut Sulistianingsih dan Zulkifli (1999:83-86) dan Harnanto dan Zulkifli (2003:14) penggolongan biaya dapat didasarkan pada hubungan antara biaya dengan:
Obyek Pengeluaran, dimana prinsip dari penggolongan biaya ini berkaitan dengan pengeluaran. Misalnya: biaya untuk membayar gaji karyawan tersebut disebut biaya gaji
Fungsi Pokok Perusahaan, dalam perusahaan manufaktur biaya diklasifikasikan menjadi:
a) Biaya produksi yaitu biaya yang dikeluarkan untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi, terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.
b) Biaya pemasaran, yaitu biaya yang dikeluarkan untuk menjual produk atau jasa biasanya dalam rangka mendapatkan dan memenuhi pesanan.
c) Biaya administrasi dan umum, yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mengarahkan, mengendalikan dan untuk mengoperasikan perusahaan.
3. Hubungan Biaya dengan Sesuatu yang Dibiayai, diklasifikasikan menjadi:
a) Biaya langsung, adalah biaya yang terjadi karena ada sesuatu yang dibiayai.
b) Biaya variabel adalah biaya yang terjadi tidak tergantung kepada ada atau tidak adanya sesuatu yang dibiayai.
4. Hubungan Biaya dengan Volume Kegiatan, diklasifikasikan menjadi:
a) Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya sampai tingkat kegiatan tertentu relatif tetap dan tidak terpengaruh oleh perubahan volume kegiatan.
b) Biaya variabel adalah biaya yang jumlahnya berubah-ubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan, namun biaya per unitnya tetap.
c. Biaya semi variabel adalah biaya yang sebagian tetap dan sebagian lagi berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan.
5. Atas Dasar Waktu, dibagi menjadi:
a) Biaya periode sekarang atau pengeluaran penghasilan (revenue expenditure), adalah biaya yang telah dikeluarkan dan menjadi beban pada periode sekarang untuk mendapatkan penghasilan periode sekarang.
b) Biaya periode yang akan datang atau pengeluaran modal (capital expenditure), adalah biaya yang telah dikeluarkan dan manfaatnya dinikmati selama lebih dari satu periode akuntansi
6. Hubungannya dengan Perencanaan, Pengendalian, dan Pembuatan Keputusan, biaya ini dikelompokkan ke dalam golongan, yaitu:
a. Biaya standar dan biaya dianggarkan.
a) Biaya standar, merupakan biaya yang ditentukan di muka (predetermine cost) yang merupakan jumlah biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk menghasilkan satu unit produk.
b) Biaya yang dianggarkan, merupakan perkiraan total pada tingkat produksi yang direncanakan.
b. Biaya terkendali dan biaya tidak terkendali
a) Biaya terkendali (controllable cost), merupakan biaya yang dapat dipengaruhi secara signifikan oleh manajer tertentu.
b) Biaya tidak terkendali (uncontrollable cost), merupakan biaya yang tidak secara langsung dikelola oleh otoritas manajer tertentu.
c. Biaya tetap commited dan discretionary
a) Biaya tetap commited, merupakan biaya tetap yang timbul dan jumlah maupun pengeluarannya dipengaruhi oleh pihak ketiga dan tidak bisa dikendalikan oleh manajemen.
b) Biaya tetap discretionary, merupakan biaya tetap yang jumlahnya dipengaruhi oleh keputusan manajemen.
d. Biaya variabel teknis dan biaya kebijakan
a) Biaya variabel teknis (engineered variabel cost), adalah biaya variabel yang sudah diprogramkan atau distandarkan seperti biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.
b) Biaya variabel kebijakan (discretionary variabel cost), adalah biaya variabel yang tingkat variabilitasnya dipengaruhi kebijakan manajemen.
e. Biaya relevan dan biaya tidak relevan
a) Biaya relevan (relevan cost), dalam pembuatan keputusan merupakan biaya yang secara langsung dipengaruhi oleh pemilihan alternatif tindakan oleh manajemen.
b) Biaya tidak relevan (irrelevant costs), merupakan biaya yang tidak dipengaruhi oleh keputusan manajemen.
f. Biaya terhindarkan dan biaya tidak terhindarkan
a) Biaya terhindarkan (avoidable costs), adalah biaya yang dapat dihindari dengan diambilnya suatu alternative keputusan.
b) Biaya tidak terhindarkan (unavoidable costs), adalah biaya yang tidak dapat dihindari pengeluarannya.
g. Biaya diferensial dan biaya marjinal
a) Biaya deferensial (differensial cost), adalah tambahan total biaya akibat adanya tambahan penjualan sejumlah unit tertentu.
b) Biaya marjinal (marjinal costs), adalah biaya dimana produksi harus sama dengan penghasilan marjinal jika ingin memaksimalkan laba.
h. Biaya kesempatan (opportunity costs), merupakan pendapatan atau penghematan biaya yang dikorbankan sebagai akibat dipilihnya alternatif tertentu.

Anatomy Of Selling



 ABSTRAK
Di dalam dunia kedokteran spesialis penjualan, alias selling,berikut ini adalah katergori beberapa tingkatan “kesakitan” seorang salesperson. Meminjam istilah penyakit kangker, maka di organisasi sales, juga dikenal dengan istilah stadium yang dapat dijabarkan sebagai berikut;
Kategori
Analogi pada ilmu kedokteran
Ciri-ciri  “salesperson” di dunia penjualan
Survival rate (kemungkinan untuk sembuh)
Sehat
Sehat, rajin olah raga, makan-makanan sehat
Sehat, penjualan berkesinambungan, tidak ada keluhan, rajin kulakan ilmu sales baru,rajin memakan makanan rohani yang baik, tidak bergaul dengan orang negative
Sehat
Stadium 1
Sudah terdeteksi “kangker” pada 1 bagian tubuh saja
Penjualan tersendat,namun masih tetap ada, masih bisa disembuhkan apabila terdeteksi sejak dini.
Mudah disembuhkan dengan training teknik dan motivasi
Stadium 2 atau 3
Sudah jelas terdeteksi “kangker” pada satu bagian tubuh yang sudah agak gawat
Penjualan mampet, motivasi turun ke basement “3”
Sulit disembuhkan, namun masih ada harapan, dengan coaching pribadi
Stadium 4
Terminal ill atau “kangker” telah menyebar ke organ lain
Penjualan nol, si salesperson keluar, mengundurkan diri, mun-ta-ber, pindah kerja atau perusahaan tutup
Tidak dapat disembuhkan, si salesperson keluar atau dikeluarkan

Maaf, kami sebagai dokter hanya bisa melakukan pengobatan stadium 1-2 saja, sedangkan pada stadium 3 si salesperson sudah “mati”  alias sudah berhenti, emngundurkan diri, pindah kerja, mun-ta-ber (mundur tanpa berita) dll.
Sebenarnya mudah sekali nagi kami untuk melakukan analisis, yaitu:
Untuk stadium 1, cukup melakukan audit fisik saja seperti kita ke dokter, cukup dilihat dan dicek dengan stetoskop saja
Untuk stadium 2, butuh pemeriksaan yang lebih mendalam lagi, terutama apakah konsep “the whole Salesperson” telah dianalisis lebih mendalam
Baik stadium 1 maupun stadium 2, seperti layaknya seorang dokter spesialis urusan salesperson yang “sakit” (baca; tidak jualan atau lemah jualan), maka hal pertama yang harus kita liat adalah dari penampilan fisik (luar). Seorang salesperson yang handal, haruslah memiliki hal-hal berikut ini.
Mata yang tajam, siap menagkap semua peluang sales yang ada.
Kulit yang besih dan harum, penampilan fisik yang bersih, membuat konsumen tidak jijik kepada kita.
Telinga yang peka, mampu mendengar suara konsumen, maupun mampu meminta nformasi.
Jantung yang kuat, mampu bekerja keras dan konsisten mencari klien-klien baru.
Mulut yang harum dan berwibawa, menarik minat consume, termasuk didalamnya adalah kemampuan untuk “sedikit berbicara, lebih banyak mendengar.
Kaki yang cekatan, mampu berlari cepat demi percepatan perputaran siklus penjualan.
Sebuah proses selling dimulai dari:
Planning : merencanakan apa yang ingin anda jual, berapa banyak yang ingin anda jual, jumlah yang ingin anda jual, strategi menjual, apapun rencana anda tentang menjual.
Approaching / making appointment : melakukan kontak pertama kali dengan calon pembeli, biasanya melalui telepon (warm calling atau cold calling) atau melalui kanvasing (cold canvassing).
Prospecting/meet the prospect : banyak sales agent yang tidak siap jasmani dan rohani (fisik/ilmu dan mental) untuk bertemu dengan calon pembeli. Perbaiki penampilan anda jika tidak ingin gagal.
Fact finding : sangat banyak sekali sales agent yang “sok tahu” dengan kebutuhan client, yang serta merta menyodorkan produk tanpa mengetahui latar belakang client.
Presentation : ingat, pembeli sekarang sangat ketat waktu jadi, sajikan presentasi dengan seringkas mungkin, banyak menggunakan grafik, gambar dan tulisan.
Handling objection & negotiation : kebanyakan sales people yang sukses pasti mampu menangani keberatan dan negosiasi.
Closing (signing) : jika anda sudah melakukan prosedur-prosedur yang benar, maka closing akan terjadi secara alamiah.
After sales service : mau dapat repeat order? Pastikan anda melakukan layanan purnajual (after sales service) dengan sangat rapi dan dapatkan referensi secara effortless (tanpa usaha), karena rumus salesperson yang berhasil adalah kerja tambah ringan tapi pendapatan lebih deras. Inilah sales person yang berhasil.
Sales competition
Berbicara tentang salesperson, tidak ada yang lebih menjengkelkan daripada berhadapan dengan salesperson yang overmotivated tetapi underskilled. Golongan ini biasanya hanya bermodalkan semangat belaka, tanpa tahu selling skill yang sesungguhnya sangat diperlukan demi terjadinya suatu penjualan.
Kuadran 1 : UM OS (Undermotivated, but Overskill)
Ini adalah kuadran dari orang-orang yang telah dilatih dengan baik, memiliki ilmu pengetahuan penjualan. Menguasai pasar dengan baik, namun tidak termotivasi, malas berjualan, malas memprospek.
Ciri-ciri:
Percaya diri tinggi, serba tahu, selalu negative, agak malas, raut muka lusuh.
Cara “memaksa” untuk menjual: Program insentif maupun motivasi.
Kuadran 2 : UM US (Undermotivated and Underskill)
Orang yang masuk dalam tipe ini lebih baik dibuang kelaut saja, sudah tidak memiliki kemampuan menjual (sales skill), juga selalu negative dan tidak termotivasi untuk berjualan. Apa yang kita bisa harapkan dari orang ini?
Ciri-ciri:
Percaya diri rendah, tidak tahu ini itu, selalu negative, agak malas, raut muka lusuh, jarang bertanya.
Cara “memaksa” untuk menjual: tidak ada, pecat orang ini.
Kuadran 3: OM OS (Overmotivated, and Overskilled)
Ini orang yang luar biasa, dia memiliki kemampuan menjual yang tinggi, komitmen tinggi, ilmu tinggi, ditambah dengan motivasi yang tinggi untuk menjual apapun.
Ciri-ciri :
Percaya diri tinggi, serba tahu, selalu positif, rajin , raut muka berseri-seri.
Cara “memaksa’ untuk menjual: Tidak perlu dipaksa, ini sudah menjadi sales machine.
Satu hal yang unik dari orang-orang yang OM OS ini adalah semua competitor melirik orang ini dan jika Anda adalah pemimpin dari orang tipe OM OS ini, pastikan Anda pikirkan tentang masa depan orang ini, jika tidak maka, orang lain (perusahaan lain) akan memikirkan karier untuk orang ini.
Kuadran 4: OM US (Overmotivated, but Underskilled)
Orang ini kepercayaan dirinya tinggi sekali, walaupun kemampuan maupun ilmunya masih kurang. Orang ini sudah merupakan bibit TOP SALES
Ciri-ciri:
Percaya diri tinggi, serba tahu (walaupun salah), selalu positif, rajin bertanya, rajin prospek, dan raut muka berseri-seri.
Cara “memaksa” untuk menjual: Pelatihan tehnik menjual. Tehnik menjual merupakan bagian dari “body”
Anatomy of selling
Soul
A.    Attitude
Tampak bahwa sesungguhnya Attitude adalah big word yang terdiri atas banyak komponen. Berikut ini komponen dari Attitude yang antara lain:
1.      Belief
Belief yang kita artikan “Keyakinan”. Banyak orang yang mengatakan setelah sukses mungkin ia yakin akan apa yang dikerjakannya. Anda tentu sedah mengetahui bahwa orang-orang sukses dan besar, selalu “yakin” terlebih dahulu akan apa yang dilakukannya, dan akhirnya keyakinan itulah yang membuatnya sukses, bukan sebaliknya.
Dalam dunia asuransi atau multilevel marketing (MLM), dimana seorang tenaga penjual haruslah tahan banting, pasti aka nada satu di antara dua paradigm berikut ini yang ada di benak orang tersebut yaitu:
See first, then believe
Believe first, then see (the result)
See first, then believe maksudnya adalah, dia harus melihat hasilnyadulu baru percaya, dia harus melihat orang lain sukses dulu baru percaya,dia harus melihat bahwa bisnis tersebut berhasil dujalani orang lain baru percaya, dia harus melihat orang lain bisa menjual produk tersebut baru percaya. Ini adalah tipe orang gagal
Tipe orang sukses adalah believe first, then see (the result), yaitu dia harus percaya dulu bisa menjual banyak, percaya bisa berhasil, percaya bisa merekrut downline atau agent atau marketing associates, baru dia melihat hasilnya. Mengapa bisa berhasil? Karena, pikiran bawah sadar atau subconscious mind-nya menyetir pikiran sadar atau conscious mind.
2.      Commitment
Kemampuan untuk tetap on track atau berada pada jalur yang seharusnya, yaitu tetap memprospek saat kondisi sulit atau tetap mengikuti meeting mingguan walaupun tidak berjualan apapun minggu lalu. Tetap berada pada bisnis ini, walaupun kondisi sulit.
Teman-teman di industry asuransi atau MLM mungkin sangat paham dengan istilah DIE DIE DO, lakukanterus menerus sampai Anda menemukan hasilnya.
3.      Desire
Memiliki rasa ingin mendapatkan penghargaan atau ingin mendapatkan uang dari hasil penjualan ini. Orang yang tidak memiliki desire, cenderung akan gagal dalam menjual, dan bahkan banting haluan ke bisnis lain atau pekerjaan lain.
4.      Ability to fail
Kadang disebut dengan “dare to fail” atau berani gagal. Berani mengambil resiko gagal demi mendapatkan sesuatu yang lebih besar. Namun ability to fail disini maksudnya dalah “ mampu untuk jatuh secara benar dengan tehnik jatuh yang benar”
5.      Persistent goals
Memiliki goal atau tujuan hidup yang persistent, yang tidak berubah oleh waktu. Ibarat sebuah mercusuar yang selalu berada pada posisi yang sama terus – menerus, mercusuar bisa diibaratkan tujuan atau goal yang persistent, terus-menerus, yang perlu dikejar.
6.      Self motivation
Kemampuan untuk memotivasi diri dari dalam (inner motivation), bukan hanya dari luar (outer motivation) sangat penting untuk dimiliki oleh para salesperson. Jika mengandalkan para motivator untuk memacu semangat Anda, maka Anda pasti gagal. Motivator luar ibarat minuman energy.
7.      Enthusiasm
Hal terburuk dari seorang salesperson adalah “lack of enthusiasm”, kehilangan semangat atau enthusiasm. Bisakah anda bayangkan Anda menghadapi seorang salesperson yang raut mukanya kurang berseri, seolah tanpa gairah hidup? Tentu saja anda akan lebih nyaman dengan salesperson yang sangan antusias, bukan?
8.      Purpose
Bayangkan Anda sedang menyetir pesawat terbang tanpa tujuan jelas? Anda hanya berputar-putar di tempat, tidak kemana-mana. Sama juga dengan salesperson yang tidak mempunyai purpose atau tujuan, dia tidak akan kemana-mana.
9.      Self discipline
Ada seorang kawan kami yang bekerja di agen asuransi. Pada pukul 10 malam dia baru bertemu dua prospek, sedangkan dia mendisiplinkan dirinya untuk ketemu 3 prospek, dan pukul 10 malam dia keliling ke restoran-restoran hanya untuk bertemu prospek ke-3 malam itu, yang dia pun tidak kenal (cold canvassing). Dia tidak closing malam itu, namun dia mencoba untuk self discipline.
10.  Confident
Seorang sales person yang sukses , dijamin memiliki kepercayaan diri yang tinggi sekali, dalam hal:
Confident akan dirinya sendiri, dirinya mampu dan pasti akan berhasil menjual
Confident akan produk yang ia jual
11.  Creativity
Trobosan atau kretivitas dalam menjual suatu produk.
12.     Emphaty
Tidak ada yang lebih menjengkelkan daripada seorang penjual yang hanya peduli dengan menjual produknya tanpa memedulikan si klien.
13.     Go the extra mile
Going the extra mile alias ngotot. Seseorang yang ngotot karena dia memiliki energy yang berapi-rapi di dalam dirinya. Inilah “soul” tersebut. Orang seperti ini dijamin 100% akan sukses.
14.     Self improvement
Anda atau tim sales anda tidak jualan? Pastikan anda memacu perbaikan terus menerus  (self improvement) dalam diri anda dan dalam diri tim sales anda.
15.     Time organization
Salah satu point kegagalan seorang salesperson adalah pengaturan waktu atau time organization.
16.     Positive thinking
Banyak salesv people yang “kalah sebelum berperang”, alias tidak melakukan penggilan telepon, sales call, ataupun canvassing karena berfikiran negative atau negative thinking.
17.     Forward thinking
Kemampuan untuk memikirkan apalagi yang bisa dijual kepada pembeli atau kemampuan untuk melihat peluang yang ada di depan kita.
B.        Early conditioning
Early Conditioning (pengkondisian sedari kecil) menjelaskan mengapa beberapa orang menganggap sesuatu “pantang”, sementara yang lain menganggap “biasa-biasa” saja dan akhirnya lebih sukses karena tidak banyak hal yang bisa dilakukannya.
Banyak sekali salesperson yang telah “terkondisikan” untuk tidak melakukan beberapa hal yang sebenarnya sangat penting, semata-mata hanya karena pernah terbentur. Bahayanya,pada saat yang sama mereka menerima sinyal bahwa tidak melakukan kegiatan penting tersebut membuat dirinya lebih nyaman. Inilah sebabnya, mengapa kami memasukkan “Early Conditioning “ dalam kelompok “soul” yang harus dicermati jauh sebelum kita berbicara mangenai selling skill atau ketrampilan menjual dan masalah tehnis lainnya.
C.       Atmosphere
Atmosphere mewakili pergaulan atau interaksi dengan orang-orang terdekat juga dipercaya membawa pengaruh besar bagi perkembangan dan kemajuan seseorang.
Penjelasan lain akan pentingnya prinsip ini adalah perumpamaan bibit, lahan dan cuaca atau “atmosphere”. Bibit tentunya mewakili “kesiapan mental” dari seseorang yang dalam hal ini dapat diartikan “attitude”-nya, sementara “lahan” adalah peluang yang ada dan terhampar dihadapannya. Dalam konteks yang lebih spesifik “bibit” adalah calon salesperson sementara “lahan” katakanlah ‘office” tempatnya bergabung dan berbisnis.
Ketika  “bibit” yang baik bertemu dengan “lahan” yang subur tetapi sebelum sempat bersemai dating “angin kencang” yang merupakan perumpamaan dari pergaulan yang keliru, maka tentu saja hasilnya akan buruk. Bahkan extremnya, bisa saja tidak menghasilkan sama sekali.
BODY
Body terdiri atas selling skill, people skill dan professional knowledge. Persamaan antara “soul” maupun “body” masing-masing bertanggung jawab atas 50% kesuksesan anda. Pernahkan anda melihat orang yang “bolot” atau pendidikannya tidak tinggi namun  sangat pandai bersosialisasi dan sangat pandai mengambil hati orang lain, dan dia mampu menjual lebih banyak. Mengapa begitu? “Soul”-nya sudah benar dan “people Skill”-nya sangat baik.
A.    People skill
Ada dua pandangan yang berbeda tentang people skill ini :
People skill didapat secara alami (bakat)
People skill didapat melalui pelatihan atau pengalaman hidup
Ringkasnya begini, setiap orang mempuyai personality (kepribadian) yang berbeda, Anda sebagai seorang salesperson harus mampu menghadapi orang-orang dengan berbagai tipe kepribadian.
Jika kita mengikuti pelatihan tentang “People Skill”, beberapa hal ini akan kita pelajari:
Bagaimana mengatasi grogi dan kehilangan kata-kata saat bertemu dengan orang yang baru dikenal.
Bagaimana mendapatkan perhatian seseorang saat anda berbicara dengannya.
Beberapa pendapat para pakar juga menjabarkan bahwa people skills sangat dibutuhkan dalam menjual, dan porsinya jauh lebih besar dari pada knowledge (pengetahuan) terhadap produk, pasar maupun diri Anda sendiri.
Menurut Dr. Mehrabian, didapati bahwa “words alias kata-kata hanya bertanggung jawab atas 7% dari efectivitas komunikasi itu sendiri, sementara itu, how say it alias tonality alias cara kita mengucapkannya ternyata memiliki efek yang lebih besar, yakni 38%, dan bagian terbesarnya yakni bahasa tubuh bertanggung jawab atas 55% efektivitas suatu komunikasi”.
Komponen-komponen people skill:
Listening ability adalah kemampuan mendengarkan terhadap kebutuhan si pembeli atau keberatan-keberatan si pembeli.
Social style adalah jangan beberbusana terlalu nyentrik sendiri, terutama kalau dikaitkan dengan profesi penjualan.
Psychological Level adalah merupakan kematangan psikologi yang ditentukan oleh wawasan dan pergaulan.
B.     Selling skills
Pembahasan selling skill pastilah akan dimulai dengan “Prospecting”. Secara sederhana, semua kegiatan yang menimbulkan “Prospek” alias adanya calon pembeli dapat disebut “Prospecting”.
Tahap selanjutnya setelah “Prospecting” adalah melayani prospek yang timbul atau bisa juga tahap presentasi, bagi produk yang butuh banyak penjelasan maupun informasi.
Kalau “Prospecting” adalah menimbulkan prospek , maka tahap presentasi adalah tahapan di mana prospek menjadi yakin dan memutuskan untuk membeli. Tahapan ini menjadi sangat penting ketika kita memahami bahwa prospek hanya butuh 10 detik pertama untuk memastikan apakah selanjutnya ia “perlu” untuk memperhatikan lebih lanjut akan apa yang Anda presentasikan. Hal inilah yang menyebabkan presentasi perlu mendapat perhatian lebih dan butuh pembahasan terpisah.
Handling objection
Di dalam dunia sales, keberatan atau objection tidak perlu terjadi namun diharapkan terjadi, maksudnya adalah kita harus mengharapkan keberatan, karena ini merupakan sinyal pembelian, tetapi kita juga harus mengantisipasi handling Objection, siap menangani keberatan-keberatan tersebut.
Tujuan dari handling objection adalah agar kita tidak menjadi argumentative, alias terpancing debat-debatan dengan calon konsumen. Di bagian terdahulu bahkan secara tegas kami katakana bahwa objection adalah cirri-ciri ketertarikan. Dengan kata lain tidak ada keberatan, maka tidak akan ada penjualan.
Dalam NLP (Neuro Linguistic Programming) dikenal istilah Pacing dan leading. Pacing adalah ketika kita berusaha intuk menyamakan langkah, cara pandang atau usaha mencari persamaan lainnya agar mitra komunikasi merasa nyaman, sebelum kita memasukkan poin utama yang hendak kita sampaikan, sementara pada bagian Leading-lah kita berharap mitra komunikasi kita sudah “siap” untuk menerima informasi atau ajakan yang lebih tepat.
Tehnik lain yang pernah kami pelajari adalah CDDC, yaitu:
Clarify : klarifikasi keberatan konsumen
Dignify : bangkitkan kegairahan atau harga diri si calon pembeli dengan menyatakan bahwantidak ada salahnya Anda menyampaikan keberatan
Disarm : sampaikan poin-poin untuk menjelaskan keberatan tersebut tidaklah tepat.
Confirm : confirmasikan bahwa si calon pembeli telah mengambil keputusan yang tepat untuk membeli produk kami.
C.    Professional knowledge
Professional knowledge memiliki bobot hanya 10% dan merupakan bagian yang spesifik berkaitan dengan industry yang dijalankan. Hal yang yg tidak boleh dilupakan ketika berbicara mengenai Product knowledge adalah “knowledge of the competition”. Inilah yang sering kali dilupan dan malas dilakukan oleh  sebagian besar salesperson. Knowledge of the competition-lah yang kadang-kadang membedakan antara salsesperson rata-rata dengan Top sales.
Sebenarnya yang membuat pembeli mengulang –ulang pembeliannya (repeat buyer) adalah Profesional knowledge ini, apalagi, Profesional knowledge+selling skill yang direkatkan oleh service (layanan). Berbicara mengenai service atau layanan ini ada tiga hal layanan yaitu:
Delighted : sangat luar biasa, layanan yang tidak disangka-sangka
Satisfied : puas dengan  layanan standart yang diharapkan
Sanitary atau Ordinary : layanan standart yang sudah pasti harus ada, jika tidak ada maka konsumenya pasti akan marah.
VITAMIN
Sesuai dengan namanya , yakni “Vitamin”, maka bagian ini diharapkan dapat menjadi bagian yang menambah vitalitas atau komponen kesehatan lainnya. Bagian ini terdiri atas dua sub bagian.
Modelling
New Selling Concept
A.       Modeling
Modeling atau meniru adalah fondasi yang baik untuk meningkatkan prestasi di bidang apapun. Selain itu modeling dapat juga didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang mempelajari sesuartu yang kompleks, membaginya menjadi bagian-bagian yang kecil dan lebih mudah dipahami untuk selanjutnya diaplikasikan kembali secara lebih mudah dan terperinci.
Komponen-komponen dalam modeling yang pertama adalah :
Find the model atau menemukan dahulu “tokoh acuan”. Menemukan siapa yang hendak dijadikan model adalah langkah awal sebelum menemukan apanya yang hendak dijadikan model. Untuk itu, anda harus memiliki tehnik bertanya yang benar dalam bidang yang anda geluti.
Ingredient atau isi, atau apa saja hal-hal yang diperlukan
How to, alias bagaimana bahan-bahan tersebut dirpelakukan
Take action, alias melakukan tindakan
Knowing dan doing, seberapa banyak dari kita yang mengaku sudah “lama” mengetahui sesuatu sampai terhenyak karena seseorang tiba-tiba melakukannya dan sukses.
Refinement alias terus menerus memoles agar dari waktu ke waktu kemampuan kita akan hal tersebut, apapun itu, menjadi luar biasa.
B.     New selling concept
Pada dasarnya gagasan new selling concept yang akan kita bahas ini salah satunya adalah peran old brain dalam pengambilan keputusan. Sebelum membahasnya kita berkenalan dulu dengan bagian-bagian otak kita menurut urut-urutan perkembangannya.
The new brain : bagian “otak” ini adalah bagian yang “berpikir”. Bagian ini memproses data rasional.
The middle brain : bagian “otak” ini adalah bagian yang “merasa”. Bagian ini memproses semua emosi dan insting.
The old brain : bagian “otak” ini adalah bagian yang ‘memutuskan. Bagian ini sebenarnya menerima input dari dua bagian terdahulu, tetapi bagian inilah sesungguhnya yang menjadi pemicu pengambilan keputusan.
Ada 6 (enam) hal yang membuat orang dapat “berbicara” kepada Old brain, yaitu:
Self Centered
Bagian ini adalah egois, sangat mendahulukan kepentingan diri sendiri.
Contrast
Bagian ini mengontraskan setiap informasi yang masuk
Tangible Input
Bagian ini lebih suka menerima input yang jelas tidak bertele-tele.
The Beginning and the End
Bagian ini paling cepat membandingkan awal dan akhir
Visual Stimuli
Bagian ini menerima input secar visual, atau dapat juga dikatakan bahwa bagian ini sangat sensitive terhadap input-input visual
Emotion
Bagian ini memproses dakam bentuk emosi.
Strategy dan new marketing concept
A.    Strategy
Sebelum kita membahas tentang strategy, perlu diperhatikan bahwa, dalam strategy, ada dua strategy dalam bidang penjualan, yaitu:
Marketing
Sales
Sebetulnya Sales & Marketing adalah 2 sisi dari 1 koin. Sales adalah satu komponen dari marketing sedangkan komponen lainnya menurut Hermawan Kertajaya *) adalah :
Strategy : segmentation, targeting, positioning
Tactic : differentiation, marketing mix, selling
Value : brand, process, service
Strategy Penjualan
Lakukan pendekatan yang tepat
Target konsumen anda
Gapai target pasar anda
Catat kinerja sales anda
B.     New marketing concept
Beberapa penerapan many to many marketing yang berhasil kami analisis diantaranya adalah sebagai berikut :
1.      Word of mounth marketing (wom marketing)
Hanya membagikan kesan positif maupun negative kepada orang lain, jika dilakukan secara off-line, efeknya hanya temporary atau sementara, dan perlu dikuatkan lagi dikemudian hari. Dalam WOM dikenal:
Organic WOM produk ini diceritakan kepada orang lain oleh si advocate (pengguna yang menceritakan) karena mereka senang dan bangga menggunakan produk tersebut. Contoh : penggunaan Blackberry di Indonesia
Amplified WOM produk ini diceritakan oleh orang-orang kepada orang lain karena si perusahaan meluncurkan program kampanye pemasaran yang telah didesain untuk membuat semua orang tahu tentang produk ini.
2.         Viral marketing
Membuat program marketing yang unik sehingga beritanya akan diteruskan jepada semakin banyak lagi orang. Contoh :diskon khusus air asia
3.      Buzz marketing
Membuat program khusus yang bikin heboh sehingga orang teringat akan produk tersebut dan ujung-ujungnya “diceritakan” kepada orang lain. Contoh : Rinso membuat buzz marketing, mencuci 1.000 ember pakaian
4.      Community marketing
Komunitas mobil dan motor seperti AXIC (Avanza Xenia Indonesia Club), Harley Davidson Club dll, mampu membuat anggotanya “loyal” terhadap merek tersebut, dan pada akhirnya dapat mendongkrak penjualan,
5.      Referral marketing
Referral (mengenalkan orang lain untuk membeli) terutama di bisnis property, mobil atau motor, asuransi jiwa, investasi saham, sangat dibutuhkan oleh orang-orang.
6.      Social media marketing
Melalui facebook, friendster, dll, misalnya ebay dan kaskus maupun mailing list

Blogroll

Join me on Facebook Follow me on Twitter Email me